Teori Komunikasi

assTEORI merupakan abstraksi dari realitas, Karenanya teori ini sangat penting sekali keberadaannya untuk menjelaskan tentang realitas atau kenyataan tersebut.  Namun teori tidaklah bersifat abstrak dalam arti yang sesungguhnya karena pengalaman selalu mempengaruhi dan merupakan dasar dari pembentukan teori tersebut, sehingga pada gilirannya teori tenntunya akan mempengaruhi konsepsi seseorang tentang pengalamannya.

Modul lengkapnya unduh di sini

Advertisements

20 thoughts on “Teori Komunikasi

  1. Nama : Hidayah Fathur R.Anwar
    NIM : 702011009

    S-O-R Theory

    GENERAL :

    Teori S-O-R yang dikemukakan oleh Hovland ,et.al(1953) merupakan singkatan dari Stimulus-Organism-Response. Adapun istilah-istilah yang digunakan dalam model ini adalah : pertama Stimulus (S), kedua Organism (O) dan ketiga, Response (R). Stimulus adalah rangsangan atau dorongan, sehingga unsur stimulus dalam teori ini merupakan perangsang berupa messege (isi pernyataan). Organism adalah badan yang hidup, sudah berarti manusia atau dalam istilah komunikan. Sehingga unsur Organism dalam teori ini adalah receiver (penerima pesan). Sedangkan Response dimaksud sebagai reaksi, tanggapan, jawaban, pengaruh, efek atau akibat, jadi dalam teori ini unsur response adalah efek (pengaruh).
    Teori S-O-R Menganalogiskan bahwa stimulus yang diterima oleh individu akan menghasilkan respons yang berbeda pula, asumsi ini diperkuat dengan teori perbedaan individu yang menyatakan bahwa perbedaan respons yang muncul disebabkan karena faktor lingkungan yang berbeda, yang mehasilkan tingkat pengetahuan dan pengalaman individu selaku penerima pesan juga berbeda.

    ESENSI :

    Teori S-O-R biasanya digunakan dalam penelitian psikologi karena objek penelitiannya adalah manusia dalam hal ini seperti opini, sikap, perilaku, kognisi, afeksi dan konasi. Hovland, et al (1953) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku pada hakekatnya sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada individu yang terdiri dari :
    1. Perhatian

    Pada tahap ini diaharapkan, pesan yang disampaikan oleh komunikator secara terus-menerus bisa membuat komunikan tampa sadar meperlajari pesan tersebut.

    2. Ketertarikan

    Ketika komunikan sudah memberikan perhatian terhadap pesan yang diterimanya maka komunikasi akan berlangsung.

    3. Keinginan

    Ditahap ini diharapkan, komunikan yang sudah memiliki ketertarikan terhadap pesan, memiliki keinginan untuk memutuskan melaksanakan pesan yang didapatnya.

    4. Keputusan

    Dalam tahap ini komunikan, akan membuat keputusan terhadap pesan yang diterimanya untuk melaksanakan pesan tersebut atau menolak. misalanya keinginan untuk memakai produk yang iklannya disiarkan di televisi atau tidak.

    5. Tindakan

    Setelah komunikan mengolahnya dan menerima pesanyanya, maka terjadilah kesediaan untuk mengubah sikap.

    Dalam teori S-O-R, diasumsikan bahwa komunikasi bergantung pada stimulus yang diberikan dengan kata lain kualitas stimulus. Semakin komunikan mempercayai komunikator, semakin kuat pula stimulus yang diterima . Kepercayaan dari seorang komunikan kepada komunikator didapatkan dari kredibilitas, kepemimpinan hingga gaya bicara komunikator.

    Kita dapat melihat salah satu contoh kontribusi Teori S-O-R yang begitu terlihat dalam iklan televise, merupakan sarana memperkenalkan produk kepada konsumen. Keberadaanya sangat membantu pihak perusahaan dalam mempengaruhi afeksi pemirsa. Ia menjadi kekuatan dalam menstimulus pemirsa agar mau melakukan tindakan yang diinginkan.

    Dilihat dari sudut pandang target sasaran, secara kondisional yang gampang dipersuasi adalah remaja. Remaja. Remaja yang masih berada pada masa transisi memiliki tingkat selekivitas yang lebih rendah di bandingkan dengan dengan orang dewasa. Konsekuensinya, wajar jika remaja menjadi kelompok sasaran utama iklan televisi. Akibatnya, tanpa disadari remaja telah memposisikan diri sebagai kelompok hedonis dengan rating tinggi. Keinginan yang selalu menggebu-gebu dalam memenuhi kebutuhan hidup adalah indikasi yang pas sekaligus menggambarkan betapa remaja begitu sukar untuk menunda desakan kebutuhan emosinya.

  2. Nama : Muhammad Ihza Radifan
    NIM : 7020116015

    Teori Informasi Klasik : Teori Informasi

    GENERAL:

    Redudansi adalah sesuatu yang bisa diramalkan atau diprediksikan (predictable). Karena prediktabilitasnya tinggi (high predictable), maka informasi pun rendah (low information). Fungsi dari redundan dalam komunikasi menurut Shannon dan Weaver ada dua, yaitu yang berkaitan dengan masalah teknis dan yang berkaitan dengan perluasan konsep redundan itu sendiri ke dalam dimensi sosial.

    Fungsi redundansi apabila dikaitkan dengan masalah teknis, ia dapat membantu untuk mengatasi masalah komunikasi praktis. Masalah ini berhubungan dengan akurasi dan kesalahan, dengan saluran dan gangguan, dengan sifat pesan, atau dengan khalayak.
    Kekurangan-kekurangan dari saluran (channel) yang mengalami gangguan (noisy channel) juga dapat diatasi oleh bantuan redundansi. Misalnya ketika kita berkomunikasi melalui pesawat telepon dan mengalami gangguan, mungkin sinyal yang lemah, maka kita akan mengeja huruf dengan ejaan yang telah banyak diketahui umum, seperti charlie untuk C, alpa untuk huruf A, dan seterusnya. Contoh lain, apabila kita ingin mengiklankan produk kita kepada masyarakat konsumen baik melalui media cetak (koran, majalah, atau tabloid) ataupun elektronik (radio dan televisi), maka redundansi berperan pada penciptaan pesan (iklan) yang dapat menarik perhatian, sangat simpel, sederhana, berulang-ulang dan mudah untuk diprediksikan (predictable).

    Selain masalah gangguan, redundansi juga membantu mengatasi masalah dalam pentransmisian pesan entropik dalam proses komunikasi. Pesan yang tidak diinginkan atau tidak diharapkan, lebih baik disampaikan lebih dari satu kali, dengan berbagai cara yang sekreatif mungkin.

    ESENSI :

    Fungsi kreatif redundansi ini bila dikaitkan dengan khalayak, akan sangat membantu sekali pada masalah jumlah dan gangguan pesan di dalamnya. Teori informasi yang dikemukakan Shannon dan Weaver ini sebenarnya banyak menuai kritik . Salah satunya adalah ia tidak mnjelaskan konsep umpan balik (feedback) dalam model teorinya. Padahal dalam konsep analogi pesawat telepon yang ia kemukakan, konsep umpan balik sangat berperan penting dalam menentukan keberhasilan komunikasi. Hal ini dikarenakan teori yang ia kaji hanya melihat komunikasi sebagai fenomena linear satu arah.

    Teori informasi (matematis) yang ia kaji hanya melihat komunikasi dari faktor komunikator yang dominan. Padahal penerima sebagai komunikan pun adalah bagian dari proses komunikasi yang akan terlibat jika konsep umpan balik ia masukkan. Selain itu umpan balik juga justru bisa memberitahukan kegagalan dalam komunikasi. Sebagai contoh, ketika seseorang menelpon dan yang ditelepon tidak melakukan reaksi apapun, atau mungkin sinyal di udara lemah, maka reaksi diam penerima sebenarnya adalah umpan balik bagi sumber atau penelpon.

    Secara garis besar, jika dibandingkan dengan teori kontemporer, misalnya, interaksionisme simbolik, model teori Shannon dan Weaver ini terlalu sederhana. Padahal komunikasi terdiri dari banyak aspek seperti yang dikatakan Schramm sebagai area studi Multidisipliner. Ia akan selalu berkaitan dengan ilmu sosial, psikologi, kejiwaan, teknologi, bahkan perang.

  3. Nama: Syir Hindzy Fityah C.G
    NIM: 7020116025

    Teor Komunikasi Lasswell
    Teori komunikasi Harold Lasswell merupakan teori komunikasi awal (1948). Lasswell menyatakan bahwa cara yang terbaik untuk menerangkan proses komunikasi adalah menjawab pertanyaan : Who, Says What, In Which Channel, To Whom, With What Effect (Siapa, Mengatakan Apa, Melalui Saluran Apa, Kepada Siapa, Dengan Efek Apa). Jadi dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah pesan yang disampaikan kepada komunikan (penerima) dari komunikator (sumber) melalui saluran-saluran tertentu baik secara langsung/tidak langsung dengan maksud memberikan dampak/effect kepada komunikan sesuai dengan yang diingikan komunikator. Yang memenuhi 5 unsur yaitu who, says what, in which channel, to whom, with what effect.

    Esensi :
    Analisis 5 unsur menurut Lasswell:
    1. Who? (siapa/sumber): komunikator adalah pelaku utama/pihak yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi atau yang memulai suatu komunikasi, bisa seorang individu, kelompok, organisasi, maupun suatu negara sebagai komunikator.
    2. Says what (pesan): Apa yang akan disampaikan/dikomunikasikan kepada penerima(komunikan), dari sumber (komunikator) atau isi informasi. Merupakan seperangkat symbol verbal/non verbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan/maksud sumber tadi. Ada 3 komponen pesan yaitu makna, symbol untuk menyampaikan makna, dan bentuk/organisasi pesan.
    3. In which channel (saluran/media): Wahana/alat untuk menyampaikan pesan dari komunikator (sumber) kepada komunikan (penerima) baik secara langsung (tatap muka), maupun tidak langsung (melalui media cetak/elektronik dll).
    4. To whom (penerima/kepada siapa): Orang/ kelompok/ organisasi/ suatu negara yang menerima pesan dari sumber.
    5. With what effect (dampak/efek): Dampak/efek yang terjadi pada komunikan(penerima) setelah menerima pesan dari sumber,seperti perubahan sikap,bertambahnya pengetahuan, dll.

    Ruang lingkup dari teori Lasswell adalah berada di lingkungan anggota-anggota masyarakat atau bisa juga masuk dalam kamunikasi massa.

    Komunikasi harus memiliki efek, yakni terjadinya perubahan perilaku audience, adalah :
    1) Terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan (kognitif)
    2) Terjadinya perubahan pada tingkat emosi/perasaan (afektif)
    3) Terjadinya perubahan pada tingkat tingkah laku (psikomotor)
    Contoh Komunikasi Laswell:
    Seorang calon presiden (siapa), berbicara mengenai perubahan yang harus dilakukan pemimpin negara untuk kemajuan bangsa (apa), melalui kampanye yang disiarkan di televise (saluran), kepada khalayak atau masyarakat (kepada siapa) dengan pengaruh yang terjadi khalayak mendapat kesan terhadap calon presiden itu untuk memilih atau tidak memilihnya (effect).

  4. NAMA: Dwiki kurnia sandi
    nim: 7020116007

    Model Shannon dan Weaver sering disebut model matematis atau model teori informasi.
    Dalam percakapan, sumber informasi adalah otak, transmitternya adalah mekanisme suara yang menghasilkan sinyal (kata-kata terucapkan), yang ditransmisikan lewat udara (sebagai saluran). Penerima (receiver), yakni mekanisme pendengaran, melakukan operasi yang sebaliknya dilakukan transmitter dengan merekonstuksi pesan dari sinyal. Tujuan (destination) adalah (otak) orang yang menjadi tujuan tersebut.
    Suatu konsep penting dalam model Shannon dan Weaver ini adalah bising (noise), yakni setiap rangsangan tambahan yang tidak dikehendaki yang dapat menggangu kecermatan pesan yang disampaikan.

    ESENSI
    a. Sumber Informasi ( Information Source )
    Dalam komunikasi manusia menjadi sumber informasi adalah otak. Tugas utama dari otak adalah menghasilkan suatu pesan atau suatu set kecil pesan dari berjuta-juta pesan yang ada.

    b. Transmitter
    Pada komunikasi tatap muka yang menjadi transmitternya adalah alat-alat pembentuk suara dan dihubungkan dengan otot-otot serta organ tubuh lainnya yang terlibat dalam penggunaan bahasa nonverbal , sedangkan pada komunikasi yang menggunakan mesin-mesin alat komunikasi yang berfungsi sebagai transmitter adalah alat itu sendiri seperti, telepon, radio, televisi, foto, dan film.

    c. Penyandingan Pesan (Encoding )
    Penyandingan pesan diperlukan untuk mengubah ide dalam otak kedalam suatu sandi yang cocok dengan Transmitter. Dalam komunikasi tatap muka signal yang cocok dengan alat-alat suara adalah berbicara.

    d. Penerima dan Decoding
    Istila penerima dan decoding atau penginterpretasian pesan seperti berlawanan dengan istilah penyandian pesan.

    e. Tujuan (Destination)
    Komponen terakhir dari Shanon adalah destination (tujuan) yang dimaksud oleh si komunikator.
    f. Sumber Gangguan (Noise)
    terlihat adanya faktor sumber gangguan pada waktu memindahkan signal dari transmitter kepada si penerima.

    Model Komunikasi Shannon dan Weaver sebagai Model Komunikasi yang dikaji dikarenakan Model Shannon dan Weaver mengkomunikasikan sesuatu hal kepada penerima pertama-tama akan terlibat dalam proses pengolahan atau pembentukan pesan melalui transmitter sehingga menimbulkan suatu symbol yang bermakna, diketahui bahwa dimana pun kita berkomunikasi maka terjadi setiap gangguan di sekeliling kita tapi kita sebagai komunikator menyampaikan ke komunikan agar lebih efektif.

    Tidak ada model yang benar atau salah. Setiap model hanya dapat diukur berdasarkan kemanfaatannya ketika dihadapkan dengan dunia nyata, khususnya ketika digunakan untuk menjaring data dalam penelitian. Selain itu, model yang dirancang, unsur-unsur model dan hubungan antara berbagai unsur tersebut, bergantung pada perspektif yang digunakan si pembuat model.

    Pandangan dari suatu perspektif akan menampilkan dimensi – dimensi tertentu, sementara pengamatan dari sudut pandang berbeda akan menyoroti aspek – aspek komunikasi yang berbeda pula.

  5. Nama : Anisa Yulianti
    NIM : 7020116003

    Teori Informasi atau Matematis
    Salah satu teori komunikasi klasik yang sangat mempengaruhi teori-teori komunikasi selanjutnya adalah teori informasi atau teori matematis. Teori ini merupakan bentuk penjabaran dari karya Claude Shannon dan Warren Weaver (1949, Weaver. 1949 ), Mathematical Theory of Communication.
    Teori ini melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis, matematis, dan informatif: komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi. Ini merupakan salah satu contoh gamblang dari mazhab proses yang mana melihat kode sebagai sarana untuk mengonstruksi pesan dan menerjemahkannya (encoding dan decoding).
    perhatiannya terletak pada akurasi dan efisiensi proses. Proses yang dimaksud adalah komunikasi seorang pribadi yang bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku atau state of mind pribadi yang lain. Jika efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka mazhab ini cenderung berbicara tentang kegagalan komunikasi. Ia melihat ke tahap-tahap dalam komunikasi tersebut untuk mengetahui di mana letak kegagalannya. Selain itu, mazhab proses juga cenderung mempergunakan ilmu-ilmu sosial, terutama psikologi dan sosiologi, dan cenderung memusatkan dirinya pada tindakan komunikasi.
    Karya Shannon dan Weaver ini kemudian banyak berkembang setelah Perang Dunia II di Bell Telephone Laboratories di Amerika Serikat mengingat Shannon sendiri adalah insiyiur di sana yang berkepentingan atas penyampaian pesan yang cermat melalui telepon. Kemudian Weaver mengembangkan konsep Shannon ini untuk diterapkan pada semua bentuk komunikasi. Titik kajian utamanya adalah bagaimana menentukan cara di mana saluran (channel) komunikasi digunakan secara sangat efisien. Menurut mereka, saluran utama dalam komunikasi yang dimaksud adalah kabel telepon dan gelombang radio.
    Latar belakang keahlian teknik dan matematik Shannon dan Weaver ini tampak dalam penekanan mereka. Misalnya, dalam suatu sistem telepon, faktor yang terpenting dalam keberhasilan komunikasi adalah bukan pada pesan atau makna yang disampaikan-seperti pada mazhab semiotika, tetapi lebih pada berapa jumlah sinyal yang diterima dalam proses transmisi.
    Penjelasan Teori Informasi Secara Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi. Teori informasi ini menitikberatkan titik perhatiannya pada sejumlah sinyal yang lewat melalui saluran atau media dalam proses komunikasi. Ini sangat berguna pada pengaplikasian sistem elektrik dewasa ini yang mendesain transmitter, receiver, dan code untuk memudahkan efisiensi informasi.

    Teori Shannon dan Weaver terdiri dari lima elemen :
    a) Information Source adalah yang memproduksi pesan.
    b) Transmitter yang menyandikan pesan dalam bentuk sinyal.
    c) Channel adalah saluran pesan.
    d) Receiver adalah pihak yang menguraikan atau mengkonstruksikan pesan dari sinyal.
    e) Destination adalah dimana pesan sampai.
    Suatu konsep penting dalam teori ini adalah gangguan (noise), yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Konsep-konsep lain yang merupakan andil Shannon dan Weaber adalah entropi dan redudansi. teori ini diterapkan pada konteks-konteks komunikasi lainnya seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi publik atau komunikasi massa. Sayangnya, model ini juga memberikan gambaran yang parsial mengenai proses komunikasi.

    Esensi :
    Claude Shannon dan Warren Weaver dikemukakan pada tahun1949 dalam buku The Mathematical Theory of Communication. Disebut model matematis atau model teori informasi. “Apa yang terjadi pada informasi sejak saat dikirimkan hingga diterima”. Sumber informasi otak Transmitter, mekanisme suara yang dihasilkan sinyal (kata-kata terucapkan), melalui udara (sebagai) saluran. Penerima (receiver) mekanisme pendengaran, dengan rekonstruksi pesan dari sinyal. Sasaran (destination) otak orang yang menjadi tujuan pesan itu. Penyampaian pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Suatu sumber yang menyandi atau menciptakan pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran kepada seseorang penerima yang menyandi balik atau mencipta ulang pesan tersebut.
    Sumber informasi menghasilkan suatu pesan untuk dikomunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Gangguan (noise), yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Contoh : panggilan telepon, musik hingar bingar, sirene di luar rumah. Gangguan selalu ada bersama pesan yang diterima oleh penerima.
    Ahli-ahli komunikasi memperluas konsep ini pada gangguan psikologis dan gangguan fisik.
    1. Gangguan Psikologis meliputi gangguan yang merasuki pikiran dan perasaan seseorang yang menggangu penerimaan pesan yang akurat. Contoh: Melamun, Mengantuk, Tidak Konsentrasi.
    2. Gangguang Fisik: Gangguan yang secara langsung menyerang fisik seseorang. Contoh: Tunanetra, Tunarungu, Cacat Mental.

    Konsep-konsep lain yang merupakan andil Shannon dan Weaver adalah Entropy (Entropy) dan Redundansi (Redundancy) serta keseimbangan yang diperlukan diantara keduanya untuk menghasilkan komunikasi yang efisien dan pada saat yang sama mengatasi gangguan dalam saluran. Secara ringkas, semakin banyak gangguan, semakin besar kebutuhan akan redundansi yang mengurangi entropi relatif pesan. Dengan menggunakan redundansi untuk mengatasi gangguan dalam saluran, jumlah informasi yang dapat ditransmisikan tereduksi pada saat tertentu.
    Model Shannon dan Weaver dapat diterapkan kepada konteks-konteks komunikasi lainnya seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi publik atau komunikasi massa. Sayangnya, model ini juga memberikan gambaran yang parsial mengenai proses komunikasi. Lagi, komunikasi dipandang sebagai fenomena statis dan satu-arah. Juga tidak ada konsep umpan balik atau tranksaksi yang terjadi dalam penyandian dan penyandian-balik dalam model tersebut.

  6. nama : RISMA YURID NURDIANTI
    NIM:7020116020

    Teori informasi dan matematis

    Teori ini merupakan bentuk penjabaran dari karya claude Shannon and warren weaver.Mathematical Theory of Communication.Teori ini melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis,matematis dan informatif. Komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi.Ini merupakan salah satu contoh dari proses yang mana melihat kode sebagai sarana untuk mengkinstruksikan pesan dan menerjemahkannya(encoding dan decoding).Proses yang dimaksud adalah komunikasi seorang pribadi yang bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku atau state of mind pribadi yang lain.Jadi efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan,maka madzhab ini cenderung berbicara tentang kegagalan komunikasi.Tahap-tahap dalam komunikasi tersebut untuk mengetahui dimana letak kegagalannya.Selain itu,proses juga cenderung mempengaruhi ilmu-ilmu social,terutama psikologi dan sosiologi,dan cenderung memusatkan dirinya pada tindakan komunikasi.

    Titik kajian utama adalah bagaimana menentukan cara dimana saluran(channel)komunikasi digunakan secara sangat efisien.Menurut mereka,saluran utama dalam komunikasi yang dimaksud adalah kabel telepon dan gelombang radio.Misalnya dalam suatu system telepon,factor yang terpenting dalam keberhasilan komunikasi adalah bukan pada pesan atau makna yang disampaikan tetapi lebih pada beberapa jumlah sinyal yang diterima dalam proses transmisi.Teori informasi ini menitikberatkan titik perhatiannya pada sejumlah sinyal yang lewat melalui saluran atau media dalam proses komunikasi.Ini sangat berguna pada pengaplikasian system elektrik dewasa ini yang mendesain transmitter,receiver,dan code untuk memudahkan efisiensi informasi.

  7. NAMA : FITRIYANI
    NPM : 7020116008
    Theory A-B-X Newcomb

    Teori Model Newcomb diperkenalkan oleh Theodore M Newcomb dari University of Michigan pada tahun 1953. Teori ini merupakan salah satu model yang memperkenal-kan kita pada bentuk pendekatan yang secara mendasar berbeda untuk proses komunikasi. Tujuan utama dari teori ini adalah untuk memperkenalkan peran komunikasi dalam hubungan sosial (masyarakat) dan untuk menjaga keseimbangan sosial dalam sistem social. Berkonsentrasi pada tujuan sosial komunikasi, menunjukkan semua komunikasi sebagai sarana mempertahankan hubungan antara orang-orang. Kadang-kadang disebut sebagai teori model “ABX”
    Komponen minimal sistem ABX adalah sebagai berikut:
    1. Orientasi A terhadap X termasuk sikap baik terhadap X seba-gai objek untuk didekati atau dihindarkan maupun terhadap ciri-ciri kognitif.
    2. Orientasi A terhadap B, dalam pengertian yang sama.
    3. Orientasi B terhadap X.
    4. Orientasi B terhadap A.
    Dalam teori ini, komunikasi merupakan cara yang biasa dan efektif dimana orang-orang mengorientasikan dirinya terhadap lingkungan. Ini adalah suatu model tindakan komunikatif dua orang yang di-sengaja (intensional). ABX ini mengisyaratkan bahwa setiap sistem apapun mungkin ditandai oleh suatu keseimbangan kekuatan-kekuatan dan bahwa setiap perubahan dalam bagian mana pun dari sistem tersebut akan menimbulkan suatu ketegangan terhadap keseimbangan atau simetri, karena ketidakseimbangan secara psikologis tidak menyenangkan dan menimbulkan tekanan internal untuk memulihkan keseimbangan.
    Cara kerja teori model ini adalah sebagai berikut: A dan B adalah komunikator dan penerima, mereka bisa saja para individu, atau manajemen dan serikat kerja, atau pemerintah dan rakyat. X adalah bagian dari lingkungan sosial mereka. ABX adalah sebuah sistem, yang berarti relasi internalnya saling bergantung: Bila A berubah, maka B dan X pun akan berubah; atau bila A merubah relasinya pada X, maka B pun akan mengubah relasinya baik pada X maupun pada A.
    Analisis Teori ABX Newcomb
    Hubungan antara A dan B seperti siswa dan guru. Sender dan Receiver dapat bekerja dalam aliran yang sama namun waktu yang sama beberapa faktor seperti “X” dapat mempengaruhi aliran mereka hubungan. “X” mungkin orang ketiga, masalah, topik atau kebijakan. Contoh pada komunikatif dua orang yang disengaja.
    A : Guru
    B : Siswa
    X : Pemilihan Ketua Osis Baru
    1. – Simetri (saling meyukai dan setuju)
    Guru dan siswa saling menyukai, dan mereka setuju dengan Pemilihan Ketua Osis Baru.
    – Simetri (saling membenci dan salah satu setuju)
    Guru dan siswa saling membenci. Guru setuju dengan Pemilihan Ketua Osis Baru.tetapi siswa tidak setuju dengan Pemilihan Ketua Osis Baru..
    2. – Asimetri (saling menyukai dan tidak setuju)
    Guru dan siswa saling menyukai tetapi mereka tidak setuju dengan Pemilihan Ketua Osis Baru.
    – Asimetri (saling membenci dan setuju)
    Guru dan siswa saling membenci tetapi mereka setuju dengan Pemilihan Ketua Osis Baru..
    Dari setiap bentuk situasi tersebut pasti akan menimbulkan masalah. Namun jika guru merubah sikapnya dan mensosialisasikan Pemilihan Ketua Osis Baru dengan baik kepada siswa, agar siswa setuju dengan Pemilihan Ketua Osis Baru maka terjadilah kesepakatan antara guru dan siswa.

    Esensi Teori ABX Newcomb
    Teori model komunikasi abx newcomb dari segi psikologi sosial yang berusaha memahami komunikasi sebagai cara-cara dimana semua orang dapat menjaga keseimbangan hubungan mereka. Dasarnya ialah antara satu sama lain saling menyeimbangkan antara kepercayaann, sikap dan sesuatu yang penting bagi seseorang melalui komunikasi yang bersifat persuasive. Juga menurut teori ini, bila keseimbangan hubungan terganggu, maka dengan komunikasilah yang dipakai untuk memugar/ memperbaharui kembali hubungan itu. teori ini mengembangkan bahwa peran komunikasi antar individu dalam suatu hubungan sangatlah penting, dengan ditunjukannya keterkaitan dan ketertarikan antara dua orang yang terhubung oleh komunikasi yang menggunakan objek atau bahasan. Hal ini untuk menjaga keseimbangan hubungan sosial yang terjadi antara dua individu.

    Intisari Teori ABX Newcomb
    Teori ini mengemukakan bahwa komunikasi terjadi karena adanya kepentingan individu untuk membandingkan sikap, pendapat, dan kemampuan dengan individu lainnya. Teori ABX ini mengartikan komunikasi sebagai suatu tindakan komunikasi yang disengaja oleh dua orang yang saling meninjau dan menyeimbangkan sebuah topik agar tidak terjadi kesenjangan dan ketegangan dalam suatu hubungan. Komunikasi tersebut juga dilakukan untuk memperbaiki kesenjangan yang sudah terjadi sebelumnya. Sehingga Newcomb membagi model ini menjadi 2 jenis teori, yaitu simetri dan asimetri.

  8. NAMA : LISNA MARYANI
    NIM : 7020116011

    Teori Dependensi Efek Komunikasi Massa

    Teori ini dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeachdan Melvin L. DeFluer (1976), yang memfokuskan pada kondisi struktural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan terjadinya suatu efek media massa. Teori ini berangkat dari sifat masyarakat modern, diamana media massa diangap sebagai sistem informasi yang memiliki peran penting dalam proses memelihara, perubahan, dan konflik pada tataran masyarakat,kelompok, dan individu dalam aktivitas sosial. Secara ringkas kajian terhadap efek tersebut dapat dirumuskan dapat dirumuskan sebagai berikut:
    1. Kognitif, menciptakan atau menghilangkan ambiguitas, pembentukan sikap, agenda-setting, perluasan sistem keyakinan masyarakat, penegasan/ penjelasan nilai-nilai.
    2. Afektif, menciptakan ketakutan atau kecemasan, dan meningkatkan atau menurunkan dukungan moral.
    3. Behavioral, mengaktifkan atau menggerakkan atau meredakan, pembentukan isu tertentu atau penyelesaiannya, menjangkau atau menyediakan strategi untuk suatu aktivitas serta menyebabkan perilaku dermawan.
    Esensi :
    Teori yang dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin L. DeFleur (1976) memfokuskan perhatiannya pada kondisi struktural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan terjadinya suatu efek media massa. Teori ini pada dasarnya merupakan suatu pendekatan struktur sosial yang berangkat dari gagasan mengenai sifat suatu masyarakat modern (atau masyarakat massa), di mana media massa dapat dianggap sebagai sistem nformasi yang memiliki peran penting dalam proses pemeliharaan, perubahan, dan konflik pada tataran masyarakat, kelompok atau individu dalam aktivitas sosial.
    Pemikiran terpenting dari teori ini adalah bahwa dalam masyarakat modern, audience menjadi tergantung pada media massa sebagai sumber informasi bagi pengetahuan tentang dan orientasi kepada apa yang terjadi dalam masyarakatnya. Jenis dan tingkat ketergantungan akan dipengaruhi oleh sejumlah kondisi struktural, meskipun kondisi terpenting terutama berkaitan dengan tingkat perubahan, konflik atau tidak stabilnya masyarakat tersebut. Dan kedua, berkaitan dengan apa yang dilakukan media yang pada dasarnya melayani berbagai fungsi informasi. Dengan demikian teori ini menjelaskan saling hubungan antara tiga perangkat variabel utama dan menentukan jenis efek tertentu sebagai hasil interaksi antara ketiga variabel tersebut.
    Pembahasan lebih lanjut mengenai teori ini ditujukan pada jenis-jenis efek yang dapat dipelajari melalui teori ini. Secara ringkas kajian terhadap efek tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.
    1.Kognitif
    a. Menciptakan atau menghilangkan ambiguitas.
    b. Pembentukan sikap. Agenda-setting.
    c. Perluasan sistem keyakinan masyarakat.
    d. Penegasan/penjelasan nilai-nilai.
    2. Afektif
    a. Menciptakan ketakutan atau kecemasan.
    b. Meningkatkan atau menurunkan dukungan moral.
    3. Behavioral:
    a. Mengaktifkan/menggerakkan atau meredakan.
    b. Pembentukan isu tertentu atau penyelesaiannya.
    c. Menjangkau atau menyediakan strategi untuk suatu aktivitas.
    d. Menyebabkan perilaku dermawan (menyumbangkan uang).
    Lebih lanjut Ball¬ Rokeach dan DeFleur mengemukakan bahwa ketiga komponen yaitu audience, sistem media dan sistem sosial saling berhubungan satu dengan Iainnya, meskipun sifat hubungan ini berbeda antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. Setiap komponen dapat pula memiliki cara yang beragam yang secara langsung berkaitan dengan perbedaan efek yang terjadi.
    Seperti misalnya: Sistem sosial akan berbeda-beda (bervariasi) sesuai dengan tingkat stabilitasnya. Ada kalanya sistem sosial yang stabil akan mengalami masa- masa krisis. Sistem sosial yang telah mapan dapat mengalami tantangan legitimasi dan ketahanannya secara mendasar. Dalam kondisi semacam ini akan muncul kecenderungan untuk mendefinisikan hal-hal bar-u, penyesuaian sikap, menegaskan kembali nilai-nilai yang berlaku atau mempromosikan nilai-nilai baru, yang kesemuanya menstimulasi proses pertukaran informasi.
    Audience akan memiliki hubungan yang beragam dengan sistem sosial dan perubahan-perubahan yang terjadi. Sejumlah kelompok mungkin mampu bertahan sementara lainnya akan lenyap. Demikian pula dengan keragaman ketergantungan pada media massa sebagai sumber informasi dan panduan. Pada umumnya kelompok-elite dalam masyarakat akan memiliki lebih banyak kendali terhadap media, lebih banyak akses ke dalamnya, dan tidak terlalu tergantung pada media jika dibandingkan dengan masyarakat kebanyakan.
    Sementara kelompok elite cenderung untuk lebih memiliki akses kepada sumber informasi lain yang lebih cakap dan kompeten, nonelite terpaksa tergantung pada media massa atau sumber informasi perorangan yang biasanya kurang memadai. Media massa beragam dalam hal kuantitas, persebaran, reliabilitas, dan otoritas. Untuk kondisi tertentu atau dalam masyarakat tertentu media massa akan lebih berperan dalam memberikan informasi sosial politik dibandingkan dalam kondisi atau masyarakat lainnya. Selanjutnya, terdapat pula keragaman fungsi dari media massa untuk memenuhi berbagai kepentingan, selera, kebutuhan, dan sebagainya.

  9. Nama : Diana Agustina
    NIM : 7020116006
    TEORI USES AND GRATIFICATIONS (KEGUNAAN DAN KEPUASAN)

    Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya. Artinya pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.
    Elemen dasar yang mendasari pendekatan teori ini (Karl dalam Bungin, 2007): Kebutuhan dasar tertentu, dalam interaksinya dengan berbagai kombinasi antara intra dan ekstra individu, dan juga dengan struktur masyarakat, termasuk struktur media, menghasilkan berbagai percampuran personal individu, dan persepsi mengenai solusi bagi persoalan tersebut, yang menghasilkan berbagai motif untuk mencari pemenuhan atau penyelesaian persoalan, yang menghasikan perbedaan pola konsumsi media dan perbedaan pola perilaku lainnya, yang menyebabkan perbedaan pola konsumsi, yang dapat memengaruhi kombinasi karakteristik intra dan ekstra individu, sekaligus akan memengaruhi pula struktur media dan berbagai struktur politik, kultural, dan ekonomi dalam masyarakat.

    Esensi :
    Jadi Uses and Gratification atau penggunaan dan Pemenuhan (kepuasan) merupakan pengembangan dari teori atau model jarum hipordemik. Model ini tidak tertarik pada apa yang dilakukan oleh media pada diri seseorang, tetapi ia tertarik dengan apa yang dilakukan orang terhadap media. Khalayak dianggap secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya.
    Uses and Gtaifications menunjukan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak, tetapi bagaiman media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak. khalayak dianggap secara aktif dengan sengaja menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan dan mempuyai tujuan. Studi dalam bidang memusatkan perhatian pada penggunaan (uses) isi media untuk mendapat kepuasan (Gratications) atas pemenuhan kebutuhan seseorang dan dari situlah timbul istilah Uses Gtarifications. Sebagian besar prilaku khalayak akan dijelaskan melalui berbagai kebutuhan dan kepetingan individu. Dengan demikian, kebutuhan individu merupakan titik awal kemunculan teori ini.
    Uses and Gtaification pada awalnya muncul ditahun 1940 sampai 1950 para pakar melakukan penelitian mengapa khalayak terlibat berbagai jenis perilaku komunikasi. Lalu mengalami kemunculan kembali dan penguatan di tahun 1970an dan 1980an. Para teoritis pendukung Teori Uses and Gtaification berargumentasi bahwa kebutuhan manusialah yang mempengaruhi bagaimana mereka menggunakan dan merespon saluran media. Dengan demikian kebutuhan individu merupakan titik awal kemunculan teori ini.
    Teori use and gratificaion ini adalah kebalikan dari teori peluru atau jarum hipodemik. dalam teori peluru media itu sangant aktif dalam all powerfull berada audience. sementara berada dipihak pasif. Sementara dalam teori aktif use and gartification ditekankan bahwa audience itu aktif untuk memillih mana media yang harus dipilih untuk memuaskan kebutuhannya.

  10. Fajar Nugraha
    7020116028
    Agenda Setting Theory

    adalah teori yang menyatakan bahwa media massa berlaku merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.

    Teori Agenda Setting pertama dikemukakan oleh Walter Lippman (1965) pada konsep “The World Outside and the Picture in our head”, penelitian empiris teori ini dilakukan Mc Combs dan Shaw ketika mereka meniliti pemilihan presiden tahun 1972. Mereka mengatakan antara lain walaupun para ilmuwan yang meneliti perilaku manusia belum menemukan kekuatan media seperti yang disinyalir oleh pandangan masyarakat yang konvensional, belakangan ini mereka menemukan cukup bukti bahwa para penyunting dan penyiar memainkan peranan yang penting dalam membentuk realitas sosial kita, ketika mereka melaksanakan tugas keseharian mereka dalam menonjolkan berita

    Essensi

    Agenda setting adalah upaya media untuk membuat pemberitaannya tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa. Ada strategi, ada kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan mempunyai nilai lebih terhadap persoalan yang muncul. Idealnya, media tak sekedar menjadi sumber informasi bagi publik. Namun juga memerankan fungsi untuk mampu membangun opini publik secara kontinyu tentang persoalan tertentu, menggerakkan publik untuk memikirkan satu persoalan secara serius, serta mempengaruhi keputusan para pengambil kebijakan. Di sinilah kita membayangkan fungsi media sebagai institusi sosial yang tidak melihat publik semata-mata sebagai konsumen.

    Menurut teori agenda setting, media massa memang tidak dapat mempengaruhi orang untuk berubah sikap tetapi dengan fungsinya sebagai gate keeper (penjaga gawang atau penyaring) yang memilih suatu topik dan persoalan tertentu dan mengabaikan yang lain. Dengan menonjolkan suatu persoalan tertentu dan mengesampingkan yang lain, media membentuk citra atau gambaran dunia seperti yang disajikan dalam media massa. (Rakhmat, 1989:259-260), ini berarti media massa cukup berpengaruh terhadap apa yang dipikirkan orang dan mempengaruhi persepsi khalayak tentang yang dianggap penting.

    Contoh kasus Prita Mulyasari. Ibu muda yang dipenjara karena mengeluhkan pelayanan sebuah institusi melalui email di sebuah mailist. Media massa mengeksposnya. Tak ayal, dukungan dan simpati mengalir deras bagi pembebasannya. Sampai-sampai diadakannya aksi solidaritas Koin Peduli Prita dalam rangka membantu Prita dalam memperoleh uang untuk bayar denda kepada Rumah Sakit Omni Internasional sebesar Rp204.000.000,-. Alhasil sumbangan seluruh masyarakat dari seluruh Indonesia sebesar Rp825.728.550, Jumlah ini empat kali lipat melebihi denda yang harus dibayarkan Prita kepada Rumah Sakit Omni Internasional.

    Framing yang dilakukan media membuat suatu berita terus menerus ditayangkan di media sehingga muncul agenda publik. Seperti yang dikatakan Robert N. Ertman, framing adalah proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol dibandingkan aspek lain. Masyarakat akan menjadikan topik utama yang diangkat oleh media sebagai bahan perbincangan sehari-hari. Pengaruh dari teori agenda setting terhadap masyarakat dan budaya sangat besar. Dunia fashion mengambil kesempatan ini untuk menarik style untuk kemudian menjadikannya trendsetter. Bahkan hingga menyentuh lapisan masyarakat menengah ke bawah. Banyak dijual kaos bergambar wajah Manohara di pasaran. Popularitas Manohara di tanah air langsung melesat bak meteor. Begitu juga yang terjadi pada kasus Prita. Dampak dari media massa yang terus mem-blow up kasusnya terbentuklah opini publik yang cenderung untuk memberinya dukungan.

    Agenda setting sendiri baru menunjukan keampuhannya jika agenda media menjadi agenda publik. Lebih hebatnya lagi jika agenda publik menjadi agenda kebijakan. Bernard C. Cohen (1963) mengatakan bahwa pers mungkin tidak berhasil banyak pada saat menceritakan orang-orang yang berpikir, tetapi berhasil mengalihkan para pemirsa dalam berpikir tentang apa. Kita bisa memakai media apa saja untuk membangun opini, tapi jika tidak sejalan dengan selera publik, maka isu yang dibangun dengan instensitas sekuat apa pun belum tentu efektif. Akibat dari opini yang dibangun publik mengenai dua kasus di atas, pemerintah turun tangan dalam memberikan kebijakan terhadap kasus-kasus ini.

  11. Nama : Afrizal Akbar
    NIM : 7020116002

    “Teori Agenda Setting”

    PEMBAHASAN

    Teori Agenda Setting adalah teori yang menyatakan bahwa media massa merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa. Dengan kata lain asumsi teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.
    Teori Agenda Setting pertama kali dikemukakan oleh Walter Lippman (1965) pada konsep “The World Outside and the Picture in our head”, penelitian empiris teori ini dilakukan Mc Combs dan Shaw ketika mereka meniliti pemilihan presiden tahun 1972. Mereka mengatakan antara lain walaupun para ilmuwan yang meneliti perilaku manusia belum menemukan kekuatan media seperti yang disinyalir oleh pandangan masyarakat yang konvensional, belakangan ini mereka menemukan cukup bukti bahwa para penyunting dan penyiar memainkan peranan yang penting dalam membentuk realitas sosial kita, ketika mereka melaksanakan tugas keseharian mereka dalam menonjolkan berita.

    ANALISIS

    Agenda setting menjelaskan begitu besarnya pengaruh media berkaitan dengan kemampuannya dalam memberitahukan kepada audiens mengenai isu – isu apa sajakah yang penting. Agenda media dapat terlihat dari aspek apa saja yang coba ditonjolkan oleh pemberitaan media terebut. Mereka melihat posisi pemberitaan dan panjangnya berita sebagai faktor yang ditonjolkan oleh redaksi.
    1. Untuk surat kabar, headline pada halaman depan, tiga kolom di berita halaman dalam, serta editorial, dilihat sebagai bukti yang cukup kuat bahwa hal tersebut menjadi fokus utama surat kabar tersebut.
    2. Dalam majalah, fokus utama terlihat dari bahasan utama majalah tersebut atau biasa disebut tajuk utama.
    3. Sementara dalam berita televisi dapat dilihat dari tayangan spot berita pertama hingga berita ketiga, dan biasanya disertai dengan sesi tanya jawab atau dialog setelah sesi pemberitaan.
    Sedangkan dalam mengukur agenda publik, McCombs dan Shaw melihat dari isu apa yang didapatkan dari kampanye tersebut. Temuannya adalah, ternyata ada kesamaan antara isu yang dibicarakan atau dianggap penting oleh publik atau pemilih tadi, dengan isu yang ditonjolkan oleh pemberitaan media massa. McCombs dan Shaw percaya bahwa fungsi agenda-setting media massa bertanggung jawab terhadap hampir semua apa-apa yang dianggap penting oleh publik. Karena apa-apa yang dianggap prioritas oleh media menjadi prioritas juga bagi publik atau masyarakat.
    Akan tetapi, kritik juga dapat dilontarkan kepada teori ini, bahwa korelasi belum tentu juga kausalitas. Mungkin saja pemberitaan media massa hanyalah sebagai cerminan terhadap apa-apa yang memang sudah dianggap penting oleh masyarakat. Meskipun demikian, kritikan ini dapat dipatahkan dengan asumsi bahwa pekerja media biasanya memang lebih dahulu mengetahui suatu isu dibandingkan dengan masyarakat umum. Berita tidak bisa memilih dirinya sendiri untuk menjadi berita. Artinya ada pihak-pihak tertentu yang menentukan mana yang menjadi berita dan mana yang bukan berita.

    ESENSI

    Agenda setting merupakan penciptaan kesadaran publik dan pemilihan isu – isu mana yang dianggap penting melalui sebuah tayangan berita. dua asumsi mendasar dari teori ini adalah,
    1. Pers dan media tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya, melainkan mereka membentuk dan mengkonstruksikan realitas tersebut.
    2. Media menyediakan beberapa isu dan memberikan penekanan lebih kepada isu tersebut yang selanjutnya memberikan kesempatan kepada publik untuk menentukan isu mana yang lebih penting dibandingkan dengan isu lainnya.
    3. Sedikit banyaknya media memberikan pengaruh kepada publik mengenai isu mana yang lebih penting dibandingkan dengan isu lainnya.
    4. Salah satu aspek yang paling penting dari konsep agenda setting ini adalah masalah waktu pembingkaian fenomena – fenomena tersebut atau yang disebut dengan framing.
    5. Dalam artian bahwa tiap – tiap media memiliki potensi – potensi agenda setting yang berbeda – beda satu sama lainnya. pendekatan ini dapat membantu kita untuk menganalisa kecenderungan – kecenderungan suatu media misalnya dalam hal komunikasi politik mereka.
    6. Kesadaran dan Informasi menjadi dua elemen penting dalam agenda setting media yang perlu disampaikan kepada komunikan.

    Media massa mampu membuat beberapa isu menjadi lebih penting dari yang lainnya. Media mampu mempengaruhi tentang apa saja yang perlu kita pikirkan. Lebih dari itu, kini media massa juga dipercaya mampu mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir. Para ilmuwan menyebutnya sebagai framing.

    Agenda = Jadwal
    Setting = Pengaturan / Mengatur

    Menurut saya, Agenda Setting merupakan proses penyampaian pesan melalui pengaturan jadwal yang dalam hal ini isu-isu yang dianggap penting oleh media agar menjadi sebuah informasi untuk membangun kesadaran komunikan atau khalayak sebagai agenda publik.

    McCombs dan Shaw kembali menegaskan kembali tentang teori agenda setting, bahwa “the media may not only tell us what to think about, they also may tell us how and what to think about it, and perhaps even what to do about it” (McCombs, 1997)

    “Media mungkin tidak hanya memberitahu kita apa yang harus dipikirkan, mereka juga dapat memberitahu kita apa dan bagaimana cara kita berpikir tentang hal tersebut, bahkan mungkin apa yang harus dilakukan tentang hal itu (McCombs, 1997)”

  12. Nama : Nova Oktavia Sundari
    Nim : 7020116016

    MODEL ABX NEWCOMB
    Pendekatan Theodoro Newcomb (1953) terhadap komunikasi adalah pendekatan pakar seorang psikologi sosial berkaitan dengan interaksi manusia.Model ini mengingatkan kepada diagram jaringan kelompok kerja yang dibuat para psikologi sosial dan merupakan awal formulasi konsistensi kognitif.Dalam bentuk paling sederhana dari kegiatan komunikas, seorang A menyampaikan informasi kepada orang lain B ,mengenai sesuatu X. Model tersebut menyatakan bahwa orientasi A (sikap) terhadap B dan terhadap X adalah saling bergantung dan ketiganya membentuk suatu sistem yang meliputi 4 orientasi.
    Teory ini menyangkut kasus dua orang yang mempunyai sikap senang atau tidak senang terhadap masing-masing dan objek eksternal , maka akan timbul hubungan seimbang (jika dia saling menyenangi dan juga menyenangi suatu objek)dan juga tidak seimbang (kalau dua orang saling menyenangi , tetapi yang satu menyenangi objek dan yang lainnya tidak).selanjutnya apabila terjadi keseimbangan setiap pesertaa akan menghadang perubahan
    A – Sender (pengirim)
    B – Receiver (penerima)
    X – Matter of Concern (Masalah Kepedulian)
    Contoh komunikasi ABX newcomb :
    Terlihat pada obrolan dua orang pecinta sepak bola.
    Jika masing masing menyukai tim sepak bola yang berbeda, misal A menyukai tim Chelsea dan B menyuai tim MU maka bhasan mereka akan menjadii perdebatan.
    A akan terus berbicara bahwa menurut nya Chelsea adalah tim terbaik, begitupun dengan B akan berbicara bahwa menurut nya MU adalah tim terbaik. Mereka akan mempunya masalah yang berbeda, keinginan yang berbeda, pendapat yang berbeda, dan bahasan mereka akan banyak tidak setuju dari masing masing dan menimbulkankonflik/ perdebatan mengenai sepak bola.
    Berbeda jika masing masing menyukai tim sepak bola yang sama, setidaknya mereka mempunyai pendapat yang sama dan bahsa mereka kan lebih spesifik terhadap bola, dan memiliki keseimbangan dalam pembiaraan dari masing masing
    Esensi :
    . Dalam model teory ini masing-masing dari individu sama-sama mempertahankan simetrinya maka kemungkinan besar dalam teory ini akan menimbulkan konflik , saya rasa untuk mencari titik keseimbangan antara berbeda orang itu sangat sulit sedangkan dalam teory ini menitik beratkan pada keseimbangan , persamaan simetri itu hanya akan terjadi apabila ada kesamaan kesenangan terhadap sesuatu objek dan kalaupun ada itu prosesnya sangat sulit karena setiap orang berbeda cra memahami objek itu sendiri.
    Model ini mengisyaratkan bahwa setiap system apapun mungkin ditandaioleh suatu keseimbangan kekuatan-kekuatan dan bahwa setiap perubahan dalam bagian mana pun dari system tersebut akan menimbulkan suatu ketegangan terhadap keseimbangan atausimetri,karena ketidakseimbangan atau kekurangan simetri secara psikologis tidak menyenangkan dan menimbulkan tekanan internal untuk memulihkan keseimbangan.
    Intisar
    Model komunikasi Newcomb ini, mengartikan komunikasi sebagai suatu tindakan komunikasi yang disengaja oleh dua orang yang saling meninjau dan menyeimbangkan sebuah topik agar tidak terjadi kesenjangan dan ketegangan dalam suatu hubungan. Komunikasi tersebut juga dilakukan untuk memperbaiki kesenjangan yang sudah terjadi sebelumnya. Sehingga Newcomb membagi model ini menjadi 2 jenis teori, yaitu simetri dan asimetri.
    Bisa digambarkan bila A dan B memiliki ketertarikan satu sama lain, dan begitu pula yang terjadi terhadap X maka sistem tersebut akan seimbang (simetri). Sebaliknya, bila A dan B saling menyukai namun mereka membenci X atau mereka saling membenci tapi memiliki pendapat yang sama mengenai X maka hal ini disebut asimetri.

  13. Nama : Reza Sendi H.
    NIM : 7020116019

    TEORI SISTEM A-B-X NEWCOMB

    Pendekatan Newcomb terhadap komunikasi bersifat psikologis,berkaitan dengan interaksi manusia yang cenderung kepada terbentuknya jaringan kelompok. Model dari Newcomb dapat membantu ahli komunikasi kelompok dalam menjelaskan dan memperkirakan tingkah laku kelompok yang beranggotakan 2 orang. Teori ini memusatkan perhatian pada pola hubungan yang ada diantara 2 individu dalam berinteraksi dan pada objek yang mempengaruhi interaksi di antara mereka. System A-B-X dari Newcomb memperluas teori hubungan antar pribadi dari heider sampai kepada interaksi yang terjadi diantara anggota dari kelompok yang hanya terdiri dari 2 orang. Model dari Newcomb melibatkan tiga unsur ,yaitu: A dan B,yang mewakili 2 orang individu yang berinteraksi :dan X sebagai objek pembicaraan menurut Newcomb, tingkah laku komunikasi terbuka antara A dan B dapat diterangkan melalui kebutuhan mereka untuk mencapai keseimbangan atau keadaan simetris antara satu sama lain dan juga terhadap X. Komunikasi terjadi karena A harus berorientasi terhadap B dan X, serta B harus beroriaentasi terhadap A dan X. Untuk mencari keadaan yang simetris, A berusaha untuk melengkapi dirinya dengan informasi tentang orientasi B terhadap X, dan ini dapat dilakukan melalui interaksi A mungkin terdorong untuk memengaruhi atau mengubah orientasi B terhadap X, jika A menemukan keadaan tidak seimbang diantara mereka . B dengan sendirinya juga akan memunyai dorongan yang sama terhadap orientasi A.Besarnya pengaruh yang akan ditanamkan oleh A dan B terhadap satu sama lain, serta kemungkinan usaha masing-masing dalam meningkatkan keadaan simetris melalui tindakan komunikasi akan meningkat pada saaat daya tarik (“L” dari Heider menunjukkan “daya tarik”), dan intensitas sikap terhadap X meningkat.

    ESENSI:

    Teori A-B-X juga dikenal sebagai teori keseimbangan.
    Menurut Newcomb, bentuk situasi komunikasi paling sederhana digambarkan oleh situasi dimana Mr. A berbicara dengan Mr. B tentang sesuatu hal yang dilabeli X.
    A = Source
    B = Receiver
    X = Object/konsep
    Model A-B-X terbagi menjadi 2 teori, yaitu:
    – simetri (balance)
    – asimetri (imbalance).
    Bisa digambarkan bila A dan B memiliki ketertarikan satu sama lain, dan begitu pula yang terjadi terhadap X maka sistem tersebut akan balance (simetri). Sebaliknya, bila A dan B saling menyukai namun mereka membenci X atau mereka saling membenci tapi memiliki pendapat yang sama mengenai X maka hal ini disebut Imbalance (asimetri).
    Teori ini mengemukakan bahwa komunikasi terjadi karena adanya kepentingan 2 individu atau kelompok untuk menyamakan dan atau membandingkan sikap, pendapat, dan kemampuan dengan individu lainnya melalui komunikasi yang bersifat persuasif.

  14. Muhammad Faizal Trijatmiko
    NIM:7020116014

    TEORI S-O-R

    Dimulai pada tahun 1930-an, lahir suatu model klasik komunikasi yang banyak mendapat pengaruh teori psikologi, Teori S-O-R singkatan dari Stimulus-Organism-Response. Objek material dari psikologi dan ilmu komunikasi adalah sama yaitu manusia yang jiwanya meliputi komponen-komponen : sikap, opini, perilaku, kognisi afeksi dan konasi.
    Asumsi dasar dari model ini adalah: media massa menimbulkan efek yang terarah, segera dan langsung terhadap komunikan. Stimulus Response Theory atau S-R theory. Model ini menunjukkan bahwa komunikasi merupakan proses aksi-reaksi. Artinya model ini mengasumsikan bahwa kata-kata verbal, isyarat non verbal, simbol-simbol tertentu akan merangsang orang lain memberikan respon dengan cara tertentu. Pola S-O-R ini dapat berlangsung secara positif atau negatif; misal jika orang tersenyum akan dibalas tersenyum ini merupakan reaksi positif, namun jika tersenyum dibalas dengan palingan muka maka ini merupakan reaksi negatif. Model inilah yang kemudian mempengaruhi suatu teori klasik komunikasi yaitu Hypodermic Needle atau teori jarum suntik. Asumsi dari teori inipun tidak jauh berbeda dengan model S-O-R, yakni bahwa media secara langsung dan cepat memiliki efek yang kuat tehadap komunikan. Artinya media diibaratkan sebagai jarum suntik besar yang memiliki kapasitas sebagai perangsang (S) dan menghasilkan tanggapan ( R) yang kuat pula.

    ESENSI S-O-R

    * STIMULUS (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif mempengaruhi perhatian individu dan berhenti disini. Tetapi bila stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif.

    * Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari ORGANISME (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.

    * Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).

    * Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku). RESPONSE


    CONTOH

    Secara substansi iklan televisi memiliki kontribusi dalam memformulasikan pesan-pesan (S) kepada pemirsa. (O) Akibatnya secara tidak langsung pemirsa telah melakukan proses belajar dalam mencerna serta mengingat pesan yang telah diterimanya. Kondisi ini tentunya tanpa disadari sebagai upaya mengubah sikap pemirsa. (R)

  15. Nama : Suci Rahmawati Agustin
    NIM : 7020116024

     Analisis
    Teori Sibernetik
    Sibernetika berasal dari bahasa Yunani (Cybernetics berarti pilot). Istilah Cybernetics yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi sibernetika, pertama kali digunakan tahun 1945 oleh Nobert Wiener dalam bukunya yang berjudul Cybernetics.
    Sibernetika adalah teori sistem pengontrol yang didasarkan pada komunikasi (penyampaian informasi) antara sistem dan lingkungan dan antar sistem, pengontrol (feedback) dari sistem berfungsi dengan memperhatikan lingkungan.
    Seiring perkembangan teknologi informasi yang diluncurkan oleh para ilmuwan dari Amerika sejak tahun 1966, penggunaan komputer sebagai media untuk menyampaikan informasi berkembang pesat. Teknologi ini juga dimanfaatkan dunia pendidikan terutama guru untuk berkomunikasi sesama relasi, mencari handout (buku materi ajar), menerangkan materi pelajaran atau pelatihan, bahkan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa. Prinsip dasar teori sibernetik yaitu menghargai adanya ‘perbedaan’, bahwa suatu hal akan memiliki perbedaan dengan yang lainnya, atau bahwa sesuatu akan berubah seiring perkembangan waktu. Pembelajaran digambarkan sebagai : INPUT => PROSES => OUTPUT

     Esensi

    Teori Sibernetik, bahwa tidak ada satu proses belajar yang ideal untuk segala Situasi , dan yang cocok untuk semua siswa . maksudnya itu masih berupa asumsi lain atau dugaan lain yang dianggap benar. Jadi kemungkinan teori ini tidak mengutamakan proses yang di maksudkan tersebut. Dan yang pasti, teori sibernetik lebih mengutamakan belajar sebagai mengolah informasi.
    Maka dari itu pemilihan model sebagai sarana pengolahan informasi harus melihat kareakteristik siswa yang dihadapi. Contohnya seperti ini :
    Dosen mengajarkan mahasiswanya tentang materi akuntansi manajemen dengar begitu banyak rumus rumusnya yang harus mahasiswa pelajari, jika karakter peserta didik bisa mengerjakan secara mandiri , namun jika tidak mengerjakan dan tidak mengerti dosen berusaha untuk membantu mahasiswanya mengerti dan paham.
    Bisa juga seperti ini dalam teori belajar sibernetik, usaha guru untuk membantu siswa mencapai tujuan belajarnya secara efektif dengan cara memfungsikan unsur unsur kognisi siswa, terutama unsur pikiran untuk memahami stimulus dari luar melalui proses pengolahan informasi.
     Intisari
    Belajar adalah pengolahan informasi. Asumi lain dari teori sibernetik adalah bahwa tidak ada suatu proses belajarpun yang ideal untuk segala situasi dan yang cocok untuk semua siswa .
    Kelebihan strategi pembelajaran yang berpijak pada teori pemprosesan informasi adalah cara berfikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol.
    Kelemahan dari teori sibernetik adalah terlalu menekankan kepada sistem informasi yang di pelajari , dan kurang memperhatikan bagaimana proses belajar.

  16. Nama; Rizki Rahman
    NIM: 7020116029
    Teori Agenda Setting

    Teori Agenda-setting diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972). Asumsi teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat
    Esiensi :
    Toeri yang di kemukakan oleh McCombs Dan DL Shaw (1972) bahwasan nya media sangat penting dan membawa dampak yang signifikan di kalangan masyarakat dikarnakan pada zaman sekarang media sangat berpengaruh terhadaap kehidupan masyarakat contoh di bidang ekonomi karna media bisa jadi sarana untuk menghidupi perekonomian d masarakat dan memperbaiki pertumbuhan dan kebutuhan ekonomi sehari hari teori ini juga menjelaskan pertumbuhan pesat dalam bidang informasi teknologi dikalangan masyarakat yang berkembang pesat
    dan media ini memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat untuk dapat di
    Contoh
    1.handphone
    2. Internet
    3. Dan media komunikasi lain nya

    • Nama; Rizki Rahman
      NIM: 7020116029
      Teori Agenda Setting

      Teori Agenda-setting diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972). Asumsi teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat
      Esiensi :
      Toeri yang di kemukakan oleh McCombs Dan DL Shaw (1972) bahwasan nya media sangat penting dan membawa dampak yang signifikan di kalangan masyarakat dikarnakan pada zaman sekarang media sangat berpengaruh terhadaap kehidupan masyarakat contoh di bidang ekonomi karna media bisa jadi sarana untuk menghidupi perekonomian d masarakat dan memperbaiki pertumbuhan dan kebutuhan ekonomi sehari hari teori ini juga menjelaskan pertumbuhan pesat dalam bidang informasi teknologi dikalangan masyarakat yang berkembang pesat
      dan media inimemberikan dampak yang sangat kuat dan signifikan bagi masyrakat untuk dapat di pelajri dengan mudah dimana saja dan kapan saja
      Contoh
      1.handphone
      2. Internet
      3. Dan media komunikasi lain nya

  17. Nama : Danar Azhara Berlianda
    NIM : 7020116004

    TEORI KOMUNIKASI MATEMATIS
    Shannon dan Weaver, Mathematical Theory of Communication (1949), adalah salah satu pelopor teori komunikasi dan juga dianggap sebagai salah satu teori komunikasi yang tertua. Teori ini juga salah satu contoh yang paling jelas dari Mahzab. Proses, yaitu aliran yang melihat komunikasi sebagai transmisi pesan.
    Fokus utama teori ini adalah untuk menentukan cara di mana saluran (channel) komunikasi dapat digunakan secara efisien.
    Mereka mencetuskan teori yang memungkinkan mereka mendekati masalah bagaimana mengirim sejumlah informasi yang maksimum melalui saluran yang ada, dan bagaimana mengukur kapasitas dari suatu saluran yang ada untuk membawa informasi. Mereka menggunakan asumsi bahwa komunikasi antar manusia (human communication) itu ibarat hubungan melalui telepon dan gelombang radio.
    Teori ini disebut model Shannon dan weaver, oleh karena Teori komunikasi manusia yang muncul pada tahun 1949, merupakan perpaduan dari gagasan Claude E. Shannon dan Warren Eaver. Shannon yang pada tahun 1948 mengetengahkan teori matematik dalam komunikasi permesinan (engineering communication), yang kemudian bersama Warren pada 1949 diterapkan pada proses komunikasi manusia (human communication).
    Sejak itulah istilah komunikasi dipergunakan “dalam pengertian yang amat luas yang mencakup semua prosedur dimana pikiran seseorang mempengaruhi pikiran orang lain” (very broad sense to include all of the procedures by which on mind may affect another). (http://sumberbelajar.blogspot.com).

    ESENSI

    Teori ini berfokus pada bagaimana cara kita mengunakan saluran (channel) komunikasi secara efektif dan efisien. Dimana dalam teori tersebut kita dimungkinkan untuk mengirim informasi secara maksimum melalui saluran yang suda ada, dan bagaimana mengukur kapasitas yang ada pada suatu saluran untuk dapat membawa informasi yang ada. Dalam praktiknya, teori matematis komunikasi ini berkaitan dengan infrastruktur teknologi dan komunikasi. Jika dilihat dari permasalahan teknis, teori ini berperan dalam menjawab hal transmisi atau saluran apakah yang paling baik dalam berkomunikasi. Hambatan jenis teknis timbul karena lingkungan yang memberikan dampak pencegahan terhadap kelancaran pengiriman dan penerimaan pesan. Dari sisi teknologi, keterbatasan fasilitas dan peralatan komunikasi, akan semakin berkurang dengan adanya temuan baru di bidang teknologi komunikasi dan sistem informasi, sehingga saluran komunikasi dalam media komunikasi dapat diandalkan serta lebih efisien. Teori ini terutama bermanfaat bagi teknologi informasi yaitu di mana dapat dijadikan perhitungan dasar agar komunikasi khususnya dalam komunikasi termediasi teknologi. Teknologi komunikasi dapat dibuat dan disesuiakan dengan kemampuan dari sebuah saluran (channel) sehingga mampu mereproduksi pesan hingga mencapai sebuah keefektifan dalam berkomunikasi. Aplikasi lain dari teori matematis komunikasi dalam praktik sehari – hari adalah adanya pengenalan noise. Dari skema komunikasi Shannon dan Weaver yang sudah dijelaskan diatas, dapat dilihat bahwa noise atau gangguan akan ditemukan dalam proses komunikasi terutama dengan menggunakan komunikasi yang dimediasi oleh teknologi. Dengan adanya pengenalan noise tersebut, maka upaya untuk meminimalisir gangguan tersebut diciptakan guna menuju keefektifan dalam berkomunikasi. Selain itu, komunikator harus berusaha untuk dapat membuat komunikan lebih mudah memusatkan perhatian pada pesan yang disampaikan sehingga penyampaian pesan dapat berlangsung tanpa gangguan yang berarti.

  18. NAMA : Renaldi Rizkia Putra
    NIM : 7020116018

    “Teori Ketergantungan”
    (Depedency Theory)

    Teori ketergantungan terhadap media mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Seperti teori uses and gratifications, pendekatan ini juga menolak asumsi kausal dari awal hipotesis penguatan. Untuk mengatasi kelemahan ini, pengarang ini mengambil suatu pendekatan sistem yang lebih jauh. Di dalam model mereka mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar.
    Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh teori uses and gratifications, teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digarisbawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media.
    Sumber ketergantungan yang kedua adalah kondisi sosial. Model ini menunjukkan sistem media dan institusi sosial itu saling berhubungan dengan khalayak dalam menciptakan kebutuhan dan minat. Pada gilirannya hal ini akan mempengaruhi khalayak untuk memilih berbagai media, sehingga bukan sumber media massa yang menciptakan ketergantungan, melainkan kondisi sosial.
    Untuk mengukur efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak, ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu riset eksperimen, survey dan riset etnografi.

    Analisis

    pengujian terhadap efek media dibawah kondisi yang dikontrol secara hati-hati. Walaupun penelitian yang menggunakan riset eksperimen tidak mewakili angka statistik secara keseluruhan, namun setidaknya hal ini bisa diantisipasi dengan membagi obyek penelitian ke dalam dua tipe yang berada dalam kondisi yang berbeda.
    Riset eksperimen yang paling berpengaruh dilakukan oleh Albert Bandura dan rekan-rekannya di Stanford University pada tahun 1965. Mereka meneliti efek kekerasan yang ditimbulkan oleh tayangan sebuah film pendek terhadap anak-anak. Mereka membagi anak-anak tersebut ke dalam tiga kelompok dan menyediakan boneka Bobo Doll, sebuah boneka yang terbuat dari plastik, di setiap ruangan. Kelompok pertama melihat tayangan yang berisi adegan kekerasan berulang-ulang, kelompok kedua hanya melihat sebentar dan kelompok ketiga tidak melihat sama sekali.
    Ternyata setelah menonton, kelompok pertama cenderung lebih agresif dengan melakukan tindakan vandalisme terhadap boneka Bobo Doll dibandingkan dengan kelompok kedua dan ketiga. Hal ini membuktikan bahwa media massa memiliki peran membentuk karakter khalayaknya.
    Kelemahan metode ini adalah berkaitan dengan generalisasi dari hasil penelitian, karena sampel yang diteliti sangat sedikit, sehingga sering muncul pertanyaan mengenai tingkat kemampuannya untuk diterapkan dalam kehidupan nyata (generalizability). Kelemahan ini kemudian sering diusahan untuk diminimalisir dengan pembuatan kondisi yang dibuat serupa mungkin dengan keadaan di dunia nyata atau yang biasa dikenal sebagai ecological validity Straubhaar dan Larose, 1997 :415).

    Survey
    Metode survey sangat populer dewasa ini, terutama kemanfaatannya untuk dimanfaatkan sebagai metode dasar dalam polling mengenai opini publik. Metode survey lebih memiliki kemampuan dalam generalisasi terhadap hasil riset daripada riset eksperimen karena sampelnya yang lebih representatif dari populasi yang lebih besar. Selain itu, survey dapat mengungkap lebih banyak faktor daripada manipulasi eksperimen, seperti larangan untuk menonton tayangan kekerasan seksual di televisi dan faktor agama. Hal ini akan diperjelas dengan contoh berikut.

    Riset Ethnografi
    Riset etnografi (ethnografic research) mencoba melihat efek media secara lebih alamiah dalam waktu dan tempat tertentu. Metode ini berasal dari antropologi yang melihat media massa dan khalayak secara menyeluruh (holistic), sehingga tentu saja relatif membutuhkan waktu yang lama dalam aplikasi penelitian.

    ESENSI

    jadi Teori Ketergantungan Media (bahasa Inggris: Depedency Theory) adalah teori tentang komunikasi massa yang menyatakan bahwa semakin seseorang tergantung pada suatu media untuk memenuhi kebutuhannya, maka media tersebut menjadi semakin penting untuk orang itu . Teori ini diperkenalkan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin DeFleur. Mereka memperkenalkan model yang menunjukan hubungan integral tak terpisahkan antara pemirsa, media dan sistem sosial yang besar.

    Konsisten dengan teori-teori yang menekankan pada pemirsa sebagai penentu media, model ini memperlihatkan bahwa individu bergantung pada media untuk pemenuhan kebutuhan atau untuk mencapai tujuannya, tetapi mereka tidak bergantung pada banyak media dengan porsi yang sama besar.

    Besarnya ketergantungan seseorang pada media ditentukan dari dua hal.

    Pertama, individu akan condong menggunakan media yang menyediakan kebutuhannya lebih banyak dibandingkan dengan media lain yang hanya sedikit. Sebagai contoh, bila anda menyukai gosip, anda akan membeli tabloid gosip dibandingkan membeli koran Kompas, dimana porsi gosip tentang artis hanya disediakan pada dua kolom di halaman belakang, tetapi orang yang tidak menyukai gosip mungkin tidak tahu bahwa tabloid gosip kesukaan anda, katakanlah acara Cek dan ricek, itu ada, ia pikir cek dan ricek itu hanya acara di televisi, dan orang ini kemungkinan sama sekali tidak peduli berita tentang artis di dua kolom halaman belakang Kompas.
    Kedua, persentase ketergantungan juga ditentukan oleh stabilitas sosial saat itu. Sebagai contoh, bila negara dalam keadaan tidak stabil, anda akan lebih bergantung/ percaya pada koran untuk mengetahui informasi jumlah korban bentrok fisik antara pihak keamanan dan pengunjuk rasa, sedangkan bila keadaan negara stabil, ketergantungan seseorang akan media bisa turun dan individu akan lebih bergantung pada institusi – institusi negara atau masyarakat untuk informasi. Sebagai contoh di Malaysia dan Singapura dimana penguasa memiliki pengaruh besar atas pendapat rakyatnya, pemberitaan media membosankan karena segala sesuatu tidak bebas untuk digali, dibahas, atau dibesar-besarkan, sehingga masyarakat lebih mempercayai pemerintah sebagai sumber informasi mereka.

  19. RIZKY RAMADON
    NIM : 7020116021

    TEORI KOMUNIKASI PERSUASIF

    Persuasi merupakan usaha untuk mengubah sikap melalui penggunaan pesan, berfokus terutama pada karakteristik komunikator dan pendengar. Sehingga komunikasi persuasif lebih jelasnya merupakan komunikasi yang berusaha untuk mengubah sikap receiver melalui penggunaan pesan yang dilakukan sender.
    De Vito menjelaskan komunikasi persuasif dalam buku Komunikasi Antarmanusia sebagai berikut: Pembicaraan persuasif mengetengahkan pembicaraan yang sifatnya memperkuat, memberikan ilustrasi, dan menyodorkan informasi kepada khalayak. Akan tetapi tujuan pokoknya adalah menguatkan atau mengubah sikap dan perilaku, sehingga penggunaan fakta, pendapat, dan himbauan motivasional harus bersifat memperkuat tujuan persuasifnya.
    Dari penjelasan tersebut, De Vito mengemukakan terdapat dua macam tujuan atau tindakan yang ingin kita capai dalam melakukan pembicaraan persuasif. Tujuan tersebut dapat berupa untuk mengubah sikap atau perilaku receiver atau untuk memotivasi perilaku receiver.
    Agar dapat mengubah sikap, perilaku, dan pendapat sasaran persuasi, seorang persuader harus mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:
    1) Kejelasan tujuan
    Tujuan komunikasi persuasif adalah untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku. Apabila bertujuan untuk mengubah sikap maka berkaitan dengan aspek afektif, mengubah pendapat maka berkaitan dengan aspek kognitif, sedangkan mengubah perilaku maka berkaitan dengan aspek motorik.
    2) Memikirkan secara cermat orang yang dihadapi
    Sasaran persuasi memiliki keragaman yang cukup kompleks. Keragaman tersebut dapat dilihat dari karakteristik demografis, jenis kelamin, level pekerjaan, suku bangsa, hingga gaya hidup. Sehingga, sebelum melakukan komunikasi persuasif sebaiknya persuader mempelajari dan menelusuri aspek-aspek keragaman sasaran persuasi terlebih dahulu.
    3) Memilih strategi komunikasi yang tepat
    Strategi komunikasi persuasif merupakan perpaduan antara perencanaan komunikasi persuasif dengan manajemen komunikasi. Hal yang perlu diperhatikan seperti siapa sasaran persuasi, tempat dan waktu pelaksanaan komunikasi persuasi, apa yang harus disampaikan, hingga mengapa harus disampaikan.

    ESIENSI

    Proses komunikasi persuasif dilakukan dengan memperhatikan beberapa aspek diantaranya adalah prinsip yang dijadikan landasan dalam melakukan persuasi, tahap-tahap berlangsungnya persuasi dengan menggunakan model-model dalam proses persuasi, dan penggunaan teknik serta strategi yang tepat dalam komunikasi persuasi. Akan tetapi proses persuasi tidak akan berhasil jika persuader tidak mampu mengatasi hambatan-hambatan yang terjadi dalam komunikasi persuasi. Dengan menerapkan aspek-aspek yang telah disebutkan sebelumnya, maka persuader dapat mencapai tujuan komunikasi persuasi yang efektif.

    Perencanaan dan pengembangan pesan persuasif perlu dilakukan dalam komunikasi persuasi, karena pesan persuasi merupakan unsur yang sangat berperan penting dalam proses persuasi. Kemudian pengimplementasian komunikasi persuasi dapat dikaitkan dengan hubungan masyarakat dalam kegiatannya yang memerlukan adanya proses persuasi untuk mempengaruhi khalayak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s